Museum Basoeki Abdullah (MBA) sesuai dengan fungsi layanannya selalu melaksanakan kegiatan edukasi, publikasi dan penyajian terhadap benda bernilai seni dan karya dari Basoeki Abdullah. Fungsi layanan ini ditujukan untuk menumbuh-kembangkan apresiasi dan kebanggaan masyarakat terhadap Basoeki Abdullah sebagai maestro seni lukis Indonesia. Salah satu kegiatan edukasi MBA tahun 2022 ini adalah gelaran Kompetisi Seni Lukis Nasional bertajuk “Basoeki Abdullah Art Award” (BAAA).
Tujuannya adalah untuk memberi ruang apresiasi, ekspresi, edukasi dan kreasi bagi generasi muda Indonesia. Dalam gelaran ini setidak-nya terkumpul 130an proposal karya seni lukis yang masuk ke panitia. Dari sekian proposal, terpilih 25 karya nominator. Dari pilihan tersebut, diseleksi oleh para juri (Djuli Djati Prambudi, Yusuf Susilo, Citra Smaradewi, Sally Texania, dan Mikke Susanto) menjadi 5 karya terbaik BAAA #4 2022.
Pengembangan tema tahunan Museum Basoeki Abdullah selalu didasarkan pada pembagian tema lukisan Basoeki Abdullah. Salah satu pilihan tema lukisan Basoeki Abdullah tahun 2022 ini adalah "Tokoh Bangsa". Tema BAAA #4 kali ini diangkat untuk mengingat Basoeki Abdullah sebagai pelukis dengan karya seni lukis figur, terutama para tokoh bangsa. Lukisan tokoh sezaman maupun yang dikaitkan dengan peristiwa perjuangan Bangsa Indonesia pernah dikerjakan. Lukisan tokoh dari dalam maupun luar negeri pun demikian.
Pengembangan tema tahunan Museum Basoeki Abdullah selalu didasarkan pada pembagian tema lukisan Basoeki Abdullah. Salah satu pilihan tema lukisan Basoeki Abdullah tahun 2022 ini adalah "Tokoh Bangsa".Tema BAAA #4 kali ini diangkat untuk mengingat Basoeki Abdullah sebagai pelukis dengan karya seni lukis figur, terutama para tokoh bangsa. Lukisan tokoh sezaman maupun yang dikaitkan dengan peristiwa perjuangan Bangsa Indonesia pernah dikerjakan. Lukisan tokoh dari dalam maupun luar negeri pun demikian.
Ketokohan ini lalu dikembangkan sebagai tajuk yang memusat pada kata kunci: ideolog. Kata “Ideolog” digunakan untuk mengimplementasikan banyaknya ide, diskursus, maupun konsep-konsep pemikiran yang bermunculan dewasa ini. Itu bisa berasal dari manapun, mulai dari bidang kajian politik, sosial, sains, seni dan bahkan percampuran diantaranya. Sehingga kata “ideolog” dalam pameran ini memberi keleluasaan pada setiap perupa untuk menggalinya. Tentu saja dominasi dan latar belakang sejarah bangsa menjadi titik tumpu utama. Apalagi suasana hari kemerdekaan yang ke-77 menjadi atmosfir penting di saat karya-karya ini dikerjakan.
Artinya tema "Tokoh Bangsa", bukan sebatas pada lukisan potret, namun juga terkait kepekaan estetika yang tinggi, sekaligus beriringan dengan konteks realitas sosial dan berbagai peristiwa sejarah dimana seorang tokoh pernah berperan di dalamnya. Pemahaman sederhana ini membawa kita dalam mengembangkan tema lukisan "Tokoh / Ideolog" menjadi tema yang kontekstual. Akhirnya ide tersebut kami ramu dengan judul "IDEOLOG : Kini, Tokoh dan Bangsa".
Seni potret telah lama dipakai di ruang publik. Tujuannya untuk mempengaruhi masyarakatnya agar mengenal penguasa, dewa, kaisar, pemimpin agama maupun tokoh-tokoh penting lainnya. Jenis medianya kebanyakan dibuat berupa patung perunggu, batu, maupun lukisan pada panel, dan fresko. Meskipun dasarnya merupakan seni privat, yang dibuat pada era Sumeria, Mesir dan Yunani, banyak potret yang dijadikan seni publik. Hal ini dilakukan untuk memberi kesan tentang misalnya potret keluarga kerajaan moral dan nilai-nilai religius sehari-hari mereka.
Seni potret merupakan representasi seseorang. Dimana wacana utama yang diketengahkan biasanya adalah (rupa) wajah. Namun, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa seni potret tidak hanya sekadar merekam wajah, tetapi menuangkan tentang ‘sesuatu’ yang ada pada diri seseorang ke dalam kanvas. Sebutan seni potret sebenarnya sangat luas pemakaiannya. Seni Potret berkembang bersamaan dengan subyektivitas pembuatnya. Tingkat kebutuhan pemesan sangat bergantung pada kemampuan (teknik dan teori, maupun pengetahuan non seni) sang perupa. Sehingga jika sang pembuat memiliki khasanah tertentu dalam pikirannya sendiri, si subjek akan menjadi bagian dari pikiran si perupa.
Di masa kontemporer seperti saat ini kita tidak mungkin lagi memperlakukan batasan-batasan tersebut secara ketat. Seni potret saat ini memiliki beragam fungsi dan manfaat, yang bahkan pada akhirnya juga berujung pada munculnya beberapa masalah. Salah satunya adalah bahwa seni potret hidup diantara fiksi dan fakta.
Karena persoalan semacam ini, terkadang karya seni potret tidak sepenuhnya bisa dipakai sebagai tolak ukur kepresisian fisik maupun sesungguh-sungguhnya dokumentasi peristiwa. Namun di sudut yang lain, karakterisasi subjek jauh lebih bisa diungkap dibanding dengan fotografi, terutama yang bersifat konvensional.
Seni potret dalam perkembangan budaya postmodern telah mengalami perubahan signifikan. Ini merupakan peluang bagi para pelukis. Seni potret menjadi lebih kritis, parodikal dan mungkin juga dangkal dan banal. Sehingga seni ini dapat dipakai untuk tujuan yang lebih dari sekadar gambar ‘keindahan’ namun juga gambar atas “Ideolog” dalam BAAA #4 ‘kejelekan’, kemasgulan’, ‘sindiran’ bagi subjeknya. Termasuk dalam konteks yang lebih baru, misalnya dalam pameran ini, potret tokoh tidak lagi melukiskan wajah sang tokoh.
Kedua, sub-kurasi "Nilai Ideologi". Bagian ini merupakan subkurasi yang memperlihatkan proses sebuah ide mempengaruhi masyarakat dan menjadi tuntunan hidup atau semangat zaman. Visualisasi karya-karya dalam sub-kurasi ini tidak berasal dari wajah sang pemilik idea/konsep pemikiran. Para perupa lebih mengetengahkan nilai etis, nilai historis, dan nilai filosofis, maupun nilai-nilai budaya secara umum, yang pernah berkembang sejak dulu hingga kini. Lukisan karya Bima Bayu Kusuma, Bukan Kartini (2022), Camelia Mitasari Hasibuan, Tinggal Memori (2022), Hendra Setiyawan, Engkau Menjelang (2022), Jefry Putra Andriansyah, Nobody Knows (2022), Khotibul Umam, Sejarah Getih (2022), Muhammad Ryan Nur Hidayatullah, Saksi Bisu (2022), Muhammad Yusya, Dame (2022), Tamara Maharani Alamsyah, Marjin (2022), dan Valentino Febri (Valent), Momentum Kebangkitan (2022) menjadi bagian dalam sub-kurasi ini.
Ketiga sub-kurasi "Kontekstualitas”. Jenis ini merupakan subkurasi yang memperlihatkan ide para seniman ini mengalami adaptasi zaman. Meskipun secara visual terkesan "agak jauh" dari pesan dan kesan tentang ideolog, terbukti bahwa karya mereka memberikan interpretasi yang luar biasa.
Bahkan diantaranya membuka peluang munculnya keterkaitan antar bidang kajian. Karya-karya dalam sub-kurasi ini memperlihatkan hubungan masa lalu dan masa kini sebagai ide. Lukisan tersebut diantaranya adalah pada karya Anjani Imania Citra Afsiser, Level Up (2022), Feny Fauziah Astuti, Papua: Senyum dan Harapan (2022), Muhammad Izzar Fakhruddin, Lost Hope (2022), Muhammad Nirwan Sambudi, Dalam Merunut Sosok Sutan Takdir Alisjahbana (2022), Shavierra Arvinda, The Wheel of Change (2022), Vincent Prijadi Purwono, Aku Adalah SuperVin (2022).
Ketiga sub-kurasi di atas mewartakan semacam bukti tentang adanya perkembangan seni dan pemikiran ideologi yang terjadi secara terus menerus. Keberadaan ide-ide baru, tidak lagi dimiliki oleh mereka yang dikenal sebagai tokoh bangsa. Kehidupan masa kini tidak saja membutuhkan seleksi yang teramat ketat. Siapa pun kini bisa berperan sebagai ideolog.
Demikian pula cara mewartakan serta memvisualisasikannya. Pelukisatau seniman hari ini, tidak boleh hanya berkutat pada sang sosok, atau manusianya. Proses terjadi atau kelahiran idea, bisa pula menjadi nilai penting ketika diskursus ideologi lahir ke dunia. Konsepsi pascamodernisme membuka peluang semua itu. Perkembangan dunia yang semakin cepat, tidak mungkin hanya dilihat dari sang pemilik ide-ide, tetapi juga penting ditinjau darimana dan bagaimana cara mereka mendapatkannya serta apa efek atas idea yang telah disuguhkan pada kita.
Sekali lagi, lukisan potret Basoeki Abdullah melalui pameran ini berjasa memberikan inspirasi bagi kita. +++